NASAKH DALAM PERSPEKTIF DINAMIKA PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN

Al- Qur’an adalah suatu kitab yang menjadi penutup dari semua kitab yang pernah diturunkan oleh Allah SWT. dan Al- Qur’an merupakan sumber atau pokok ajaran Islam.

Terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahwa Al- Qur’an adalah dasar dan sumber utama ajaran Islam. Diantaranya firman Allah:

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Al- Maidah : 49)[1]

Di dalam Al-Quran, kata naskh dalam berbagai bentuknya, ditemukan sebanyak empat kali, yaitu dalam QS 2:106, 7:154, 22:52, dan 45:29. Dari segi etimologi, kata tersebut dipakai dalam beberapa arti, antara lain pembatalan, penghapusan, pemindahan dari satu wadah ke wadah lain, dan pengubahan. Sesuatu yang membatalkan, menghapus dan memindahkan, dinamai nasikh. Sedangkan yang dibatalkan, dihapus, dipindahkan, dinamai mansukh.

Dalam ilmu tafsir ada  yang  disebut  asbab  al-nuzul,  yang mempunyai  unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir  memberi  tempat   yang   cukup   tinggi   terhadap pengertian   ayat  al-Qur’an.  Dalam  konteks  sejarah  yang menyangkut interpretasi  itulah  kita  membicarakan  masalah nasikh-mansukh dalam perspektif dinamika pendidikan.

Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita  soroti  adalah masalah  Pengertian Nasakh, Nasikh dan Mansukh, syarat- syarat keabsahan Nasakh, dan naskh dalam perspektif dinamika pendidikan.

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Nasakh, Nasikh dan Mansukh

1.    Pengertian Nasakh

Panjang dan lebar para ulama telah bertukar pikiran tentang ta’rif nasakh menurut istilah karena lafadz nasakh mengandung beberapa makna dari segi bahasa. Yaitu:[2]

a.                   Nasakh, terkadang bermakna izalah (menghilangkan).

b.                  Nasakh kadang-kadang bermakna tabdil (mengganti/ menukar).

c.                   Nasakh terkadang bermakna menukilkan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Seperti pada perkataan “nasakhtul kitaba = saya menukilkan isi kitab”, yaitu apabila kita menukilkan apa yang di dalam kitab itu meniru lafadz dan tulisannya.

2. Pengertian Nasikh

Nasikh menurut bahasa berarti sesuatu yang menghapuskan, menghilangkan atau yang memindahkan atau yang mengutip/ menyalin serta mengubah dan mengganti. Jadi, hampir sama dengan pengertian nasakh. Bedanya nasakh adalah kata masdar sedangkan nasikh ism fa’il, sehingga berarti pelakunya.

Sedangkan pengertian nasikh menurut istilah ada dua macam :

a.                   Nasikh ialah hukum syara’ atau dalil syara’ yang menghapuskan dalil syara’ yang terdahulu dan menggantinya dengan ketentuan hukum baru yang dibawahnya.

b.         Nasikh itu ialah Allah SWT. Artinya bahwa sebenarnya yang menghapus dan menggantikan hukum- hukum syara’ itu pada hakikatnya ialah Allah SWT, tidak ada yang lain.[3]

3. Pengertian Mansukh

Mansukh menurut bahasa, berarti sesuatu yang dihapus/ dihilangkan atau dipindah atau disalin/ dinukil. Sedangkan menurut istilah mansukh adalah hukum syara’ yang diambil dari dalil syara’ yang pertama yang belum diubah dengan dibatalkan dan diganti dengan hukum dari dalil syara’ baru yang datang kemudian.[4]

B. Syarat- syarat keabsahan nasakh.

Syarat- syarat keabsahan Nasakh antara lain : [5]

1.      Hukum yang di nasakh (mansukh) merupakan hukum syar’i.

2.      Hukum yang me nasakh (nasikh) harus dalil syar’i.

3.      Dalil nasikh turun kemudian setelah dalil mansukh.

4.      Antara kedua dalil yang kemudian menjadi mansukh dan nasikh tersebut terdapat pertentangan hakiki dimana keduanya benar-benar tidak dapat dikompromikan.

C. Pendapat para Ulama tentang Nasakh.

Diantara para mujtahidin, seperti al Imam Asy Syafi’i, Muhammad Husain al- taba’taba’i ,  dan juga para mufassirin bahkan jumhurnya berpendapat bahwa terjadinya nasakh sangat mungkin, Mengingat al Qur’an diturunkan dalam rentang masa yang panjang dengan ragam situasi yang berbeda- beda. Ketentuan hukum ayat mansukhah yang bersifat sementara dan terbatas, melalui proses nasakh dinyatakan berakhir keberlakuannya sejalan dengan tuntutan kemaslahatan.[6]

As Syafi’i dan ulama yang berpendapat tentang adanya mansukhah sesuai dengan firman Allah:

Artinya : “Apa-apa yang Kami hapuskan dari sesuatu ayat atau kami jadikan ia dilupakan, niscaya kami datangkan yangb lebih baik dari padanya, atau yang sepertinya. (Q.S. al Baqarah : 106).[7]

Selain ayat diatas ada juga firman allah :

Artinya: “Dan apabila Kami gantikan suatu ayat di tempat suatu ayat.(Q.S. an Nahl :101).[8]

Sedangkan diantara ahli yang membantah keras adanya ayat- ayat mansukh dalam al Qur’an ialah Abu Muslim Al Asfahany. Pendapat beliau dikuatkan di masa- masa akhir oleh beberapa ahli ilmu yang terkenal. Diantaranya, Al Ustadzul Imam Asy Syaikh Muhammad Abduh, dan mufassir besar al fakhrur razy. Dalam hal ini Abu Muslim Al asfahany berkata : Jika dihukum ada dalam al Qur’an ayat yang telah dimansukhkan berarti membatalkan sebagian isinya. Membatalkan itu berarti menetapkan bahwa di dalam al Qur’an ada yang batal ( yang salah).[9] Padahal  Allah berfirman menerangkan sifat Al Qur’an :

Artinya :” Tiada datang kepadanya ( al Qur’an) kebathalan, baik di muka nya, maupun di belakangnya”. ( Q.S.Fushshilat : 42).[10]

E.  Hikmah adanya nasakh.

Hikmah adanya nasakh adalah :

1.              Untuk menjaga keselamatan hamba-hamba Allah SWT.

2.              Perkembangan hukum syara’ berjalan berbarengan dengan urutan kesempurnaan sesuai dengan perkembangan dakwah dan situasi manusia.

3.              Untuk menguji mukallaf (orang- orang yang ditugaskan atasnya agama Allah) dan hak pilihnya dalam mematuhi atau tidak mematuhinya.

4.              Tujuannya mendapatkan yang lebih baik bagi umat dan memudahkan hukumnya. Bila ia makin memberatkan, maka itu bertujuan agar pahalanya makin banyak. Bila terlihat agak ringan, maka tujuannya memudahkan dan melapangkan Nya.[11]

F. Nasakh dalam perspektif dinamika pendidikan.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, masalah hakekat tujuan hidup dan tujuan pendidikan bagi manusia semakin santer dibahas. Keduanya merupakan titik tolak dalam memberikan pembatasan menyangkut fungsi manusia dalam kehidupan ini.[12]

Adapun konsep tujuan pendidikan bagi manusia yang paling sederhana yang mungkin disebut tentang itu adalah “perubahan yang diingini diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapai baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan masyarakat dan pada alam sekitar tentang individu itu hidup, atau pada proses pendidikan sendiri dan proses pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai proporsi diantara profesi- profesi asasi dalam masyarakat.[13]

Sedangkan nasakh dalam perspektif dinamika pendidikan pada sistem pendidikan di Indonesia bahwasannya kita tahu ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dengan demikian metode pendidikan dan pengajaran juga akan berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu metode nasakh sangat dominan keberadaannya dalam perkembangan sistem pendidikan kita.

Misalnya saja sistem pengajaran CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang dulu dicanangkan oleh pemerintah kita pada tahun 1975 merupakan pengganti sistem pendidikan pada masa kolonial belanda. Kemudian diganti lagi dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Dan muncullah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pada tahun 2006.

Perubahan dan pergantian sistem pendidikan dimaksudkan agar sistem pendidikan di Indonesia selaras dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bahan yang diajarkan dapat di serap secara maksimal oleh peserta didik.

KESIMPULAN

al-Qur’an merupakan  kesatuan  utuh. Tak  ada  pertentangan  satu  dengan  lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur’an  yufassir-u  ba’dhuhu  ba’dha. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi  dalam  114 kelompok  surat,  mengandung  berbagai jenis pembicaraan dan persoalan.

Adanya nasikh-mansukh  tidak  dapat  dipisahkan  dari  sifat turunnya   al-Qur’an  itu  sendiri  dan  tujuan  yang  ingin dicapainya.

Sedangkan nasakh dalam perspektif dinamika pendidikan pada sistem pendidikan di Indonesia bahwasannya kita tahu ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman.

Perubahan dan pergantian sistem pendidikan dimaksudkan agar sistem pendidikan di Indonesia selaras dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bahan yang diajarkan dapat di serap secara maksimal oleh peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

As- Sarari, Abdul Ghafar Sulaiman, Al- nasikh wa al mansukh fi Qur’anil Karim, (Beirut, Darul kutub al ilmiyah, 1986).

Ar-Rumi, Fadh Bin Abdurrahman, Ulumul Qur’an studi Kompleksitas Al- Qur’an, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 1992).

Ash- Shidieqy, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur’an/ Tafsir, (Jakarta, Bulan Bintang, 1954).

Aziz, Yahya., Dinamika Pendidikan Islam, (Surabaya: Alpha, 2007).

Baidowi, Ahmad, Mengenal Thabathaba’i dan kontroversi nasikh mansukh, (Bandung, Nuansa, 2005).

Djalal, Abdul, Ulumul Qur’an, (Surabaya, Dunia Ilmu, 2008).

Hamzah, Muchotob,  Studi Al-Qur’an, (Yogyakarta, Gama Media, 2003).

Kementerian urusan agama Islam, Al- Qur’an dan Terjemahnya, , 1971.

Masyhur, Kahar, Pokok- pokok Ulumul qur’an, (Jakarta, Rineka Cipta, 1992).

Shahrur, Muhammad, dkk, Studi al Qur’an kontemporer, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 2002).

Sholeh, Subkhi, Mabahist fi Ulumil Qur’an, (Beirut, Dar al Ilmi li al Malayin, 1977).


[1] Al- Qur’an, 5 (Al- Maidah) : 49

[2] Subkhi Sholeh, Mabahist fi Ulumil Qur’an, (Beirut: Dar al Ilmi li al Malayin, 1977), hal. 367-368.

[3] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya: Dunia Ilmu, 2008), 120-121.

[4] Ibid., 122.

[5] Ahmad Baidowi, Mengenal Thabathaba’i dan kontroversi nasikh mansukh, (Bandung: Nuansa, 2005), 72.

[6] Muhammad Shahrur , dkk, Studi al Qur’an kontemporer,( Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 114.

[7] Al- Qur’an, 2 (al- Baqarah): 106.

[8]Ibid., 1   6 (an Nahl): 101.

[9] Hasbi Ash- Shidieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur’an/ Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1954), 108- 109.

[10] Al- Qur’an, 41 (Fushshilat): 42.

[11] Kahar Masyhur, Pokok- pokok Ulumul qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), 141.

[12] Yahya Aziz, Dinamika Pendidikan Islam, (Surabaya: Alpha, 2007), 1.

[13] Ibid, 7.

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s