<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sebuah perjalanan...</title>
	<atom:link href="http://arifah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arifah.wordpress.com</link>
	<description>Hidup adalah perjalanan yang harus kita isi dengan kebaikan..</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 13:32:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='arifah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sebuah perjalanan...</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arifah.wordpress.com/osd.xml" title="Sebuah perjalanan..." />
	<atom:link rel='hub' href='http://arifah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ilmuwan tukang&#8230;.</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2011/02/07/ilmuwan-tukang/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2011/02/07/ilmuwan-tukang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 05:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Mengutip ungkapan salah satu dosen bahwa sebagian besar  ilmuwan di Indonesia hanyalah ilmuwan tukang. Mereka bekerja dan menghasilkan karya ilmiah ataupun temuan tentang sesuatu yang berlabel &#8220;ilmiah&#8221; atas pesanan pihak tertentu bukan karena murni inisiatif mereka berdasarkan koridor keilmuan yang &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2011/02/07/ilmuwan-tukang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=241&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengutip ungkapan salah satu dosen bahwa sebagian besar  ilmuwan di Indonesia hanyalah ilmuwan tukang. Mereka bekerja dan menghasilkan karya ilmiah ataupun temuan tentang sesuatu yang berlabel &#8220;ilmiah&#8221; atas pesanan pihak tertentu bukan karena murni inisiatif mereka berdasarkan koridor keilmuan yang berlaku.</p>
<p>Unsur politik dan bisnis sangat mendominasi &#8220;ilmuwan tukang&#8221; dalam menghasilkan penemuan &#8220;ilmiah&#8221; mereka, dan lagi-lagi  uang adalah segalanya bagi mereka. Karena uang mereka menghalalkan segala cara untuk mengklaim bahwa temuan yang mereka hasilkan adalah ilmiah, padahal hanya omong kosong dan bohong belaka dalam artian tidak memenuhi persyaratan bisa disebut ilmiah dengan motif menghancurkan lawan politik pemesan, atau menaikkan pamor pemesan atau menghancurkan lawan bisnis nya.</p>
<p>kalau ilmuwan saja bisa diperdagangkan karyanya untuk jalan yang tidak benar lalu bagaimana perkembangan keilmuan di negara Indonesia kedepan? apakan akan lebih menjamur ilmuwan- ilmuwan tukang baru. dan hilanglah ilmuwan sejati karena tersingkir atau bahkan beralih profesi menjadi ilmuwan tukang juga??</p>
<p>kalau ini terus dibiarkan bisa bahaya ini!!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=241&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2011/02/07/ilmuwan-tukang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NASAKH  DALAM PERSPEKTIF DINAMIKA PENDIDIKAN</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2011/02/04/nasakh-dalam-perspektif-dinamika-pendidikan/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2011/02/04/nasakh-dalam-perspektif-dinamika-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 03:52:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Al- Qur’an adalah suatu kitab yang menjadi penutup dari semua kitab yang pernah diturunkan oleh Allah SWT. dan Al- Qur’an merupakan sumber atau pokok ajaran Islam. Terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahwa Al- Qur’an adalah dasar dan sumber &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2011/02/04/nasakh-dalam-perspektif-dinamika-pendidikan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=259&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong>I. </strong><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Al- Qur’an adalah suatu kitab yang menjadi penutup dari semua kitab yang pernah diturunkan oleh Allah SWT. dan Al- Qur’an merupakan sumber atau pokok ajaran Islam.</p>
<p>Terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahwa Al- Qur’an adalah dasar dan sumber utama ajaran Islam. Diantaranya firman Allah:</p>
<p><em>dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. </em>(Q.S. Al- Maidah : 49)<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Di dalam Al-Quran, kata naskh dalam berbagai bentuknya, ditemukan sebanyak empat kali, yaitu dalam QS 2:106, 7:154, 22:52, dan 45:29. Dari segi etimologi, kata tersebut dipakai dalam beberapa arti, antara lain pembatalan, penghapusan, pemindahan dari satu wadah ke wadah lain, dan pengubahan. Sesuatu yang membatalkan, menghapus dan memindahkan, dinamai nasikh. Sedangkan yang dibatalkan, dihapus, dipindahkan, dinamai mansukh.</p>
<p>Dalam ilmu tafsir ada  yang  disebut  asbab  al-nuzul,  yang mempunyai  unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir  memberi  tempat   yang   cukup   tinggi   terhadap pengertian   ayat  al-Qur&#8217;an.  Dalam  konteks  sejarah  yang menyangkut interpretasi  itulah  kita  membicarakan  masalah nasikh-mansukh dalam perspektif dinamika pendidikan.</p>
<p>Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita  soroti  adalah masalah  Pengertian Nasakh, Nasikh dan Mansukh, syarat- syarat keabsahan Nasakh, dan naskh dalam perspektif dinamika pendidikan.</p>
<p><span id="more-259"></span></p>
</div>
<div>
<p><strong>II. </strong><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>A. </strong><strong>Pengertian Nasakh, Nasikh dan Mansukh</strong></p>
<p><strong>1.    Pengertian Nasakh</strong></p>
<p>Panjang dan lebar para ulama telah bertukar pikiran tentang ta&#8217;rif <em>nasakh </em>menurut istilah karena lafadz <em>nasakh</em> mengandung beberapa makna dari segi bahasa. Yaitu:<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>a.                   <em>Nasakh</em>, terkadang bermakna<em> izalah</em> (menghilangkan).</p>
<p>b.                  <em>Nasakh</em> kadang-kadang bermakna <em>tabdil</em> (mengganti/ menukar).</p>
<p>c.                   <em>Nasakh</em> terkadang bermakna <em>menukilkan</em> dari suatu tempat ke tempat yang lain. Seperti pada perkataan <em>“nasakhtul kitaba = saya menukilkan isi kitab”,</em> yaitu apabila kita menukilkan apa yang di dalam kitab itu meniru lafadz dan tulisannya.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Pengertian Nasikh</strong></p>
<p><em>Nasikh</em> menurut bahasa berarti sesuatu yang menghapuskan, menghilangkan atau yang memindahkan atau yang mengutip/ menyalin serta mengubah dan mengganti. Jadi, hampir sama dengan pengertian <em>nasakh</em>. Bedanya <em>nasakh</em> adalah kata <em>masdar</em> sedangkan <em>nasikh</em> <em>ism fa’il, </em>sehingga berarti pelakunya.</p>
<p>Sedangkan pengertian nasikh menurut istilah ada dua macam :</p>
<p>a.                   Nasikh ialah hukum syara’ atau dalil syara’ yang menghapuskan dalil syara’ yang terdahulu dan menggantinya dengan ketentuan hukum baru yang dibawahnya.</p>
<p>b.         Nasikh itu ialah Allah SWT. Artinya bahwa sebenarnya yang menghapus dan menggantikan hukum- hukum syara’ itu pada hakikatnya ialah Allah SWT, tidak ada yang lain.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Pengertian Mansukh</strong></p>
<p>Mansukh menurut bahasa, berarti sesuatu yang dihapus/ dihilangkan atau dipindah atau disalin/ dinukil. Sedangkan menurut istilah mansukh adalah hukum syara’ yang diambil dari dalil syara’ yang pertama yang belum diubah dengan dibatalkan dan diganti dengan hukum dari dalil syara’ baru yang datang kemudian.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>B. Syarat- syarat keabsahan nasakh.</strong></p>
<p>Syarat- syarat keabsahan Nasakh antara lain : <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>1.      Hukum yang di <em>nasakh (mansukh)</em> merupakan hukum syar’i.</p>
<p>2.      Hukum yang me <em>nasakh (nasikh)</em> harus dalil syar’i.</p>
<p>3.      Dalil <em>nasikh</em> turun kemudian setelah dalil <em>mansukh</em>.</p>
<p>4.      Antara kedua dalil yang kemudian menjadi <em>mansukh</em> dan <em>nasikh </em>tersebut terdapat pertentangan hakiki dimana keduanya benar-benar tidak dapat dikompromikan.</p>
<p><strong>C. Pendapat para Ulama tentang Nasakh.</strong></p>
<p>Diantara para mujtahidin, seperti al Imam Asy Syafi’i, Muhammad Husain al- taba’taba’i ,  dan juga para mufassirin bahkan jumhurnya berpendapat bahwa terjadinya nasakh sangat mungkin, Mengingat al Qur’an diturunkan dalam rentang masa yang panjang dengan ragam situasi yang berbeda- beda. Ketentuan hukum ayat mansukhah yang bersifat sementara dan terbatas, melalui proses nasakh dinyatakan berakhir keberlakuannya sejalan dengan tuntutan kemaslahatan.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>As Syafi’i dan ulama yang berpendapat tentang adanya mansukhah sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Artinya : “<em>Apa-apa yang Kami hapuskan dari sesuatu ayat atau kami jadikan ia dilupakan, niscaya kami datangkan yangb lebih baik dari padanya, atau yang sepertinya. </em>(Q.S. al Baqarah : 106).<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Selain ayat diatas ada juga firman allah :</p>
<p>Artinya: “<em>Dan apabila Kami gantikan suatu ayat di tempat suatu ayat.</em>(Q.S. an Nahl :101).<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Sedangkan diantara ahli yang membantah keras adanya ayat- ayat mansukh dalam al Qur’an ialah <em>Abu Muslim Al Asfahany.</em> Pendapat beliau dikuatkan di masa- masa akhir oleh beberapa ahli ilmu yang terkenal. Diantaranya, Al Ustadzul <em>Imam Asy Syaikh Muhammad Abduh, </em>dan mufassir besar <em>al fakhrur razy.</em> Dalam hal ini <em>Abu Muslim Al asfahany </em>berkata : Jika dihukum ada dalam al Qur’an ayat yang telah dimansukhkan berarti membatalkan sebagian isinya. Membatalkan itu berarti menetapkan bahwa di dalam al Qur’an ada yang batal ( yang salah).<a href="#_ftn9">[9]</a> Padahal  Allah berfirman menerangkan sifat Al Qur’an :</p>
<p>Artinya <em>:” Tiada datang kepadanya ( al Qur’an) kebathalan, baik di muka nya, maupun di belakangnya”. </em>( Q.S.Fushshilat : 42).<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p><strong>E.  Hikmah adanya nasakh.</strong></p>
<p>Hikmah adanya nasakh adalah :</p>
<p>1.              Untuk menjaga keselamatan hamba-hamba Allah SWT.</p>
<p>2.              Perkembangan hukum syara’ berjalan berbarengan dengan urutan kesempurnaan sesuai dengan perkembangan dakwah dan situasi manusia.</p>
<p>3.              Untuk menguji mukallaf (orang- orang yang ditugaskan atasnya agama Allah) dan hak pilihnya dalam mematuhi atau tidak mematuhinya.</p>
<p>4.              Tujuannya mendapatkan yang lebih baik bagi umat dan memudahkan hukumnya. Bila ia makin memberatkan, maka itu bertujuan agar pahalanya makin banyak. Bila terlihat agak ringan, maka tujuannya memudahkan dan melapangkan Nya.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong>F. </strong><strong>Nasakh dalam perspektif dinamika pendidikan.</strong><strong> </strong></p>
<p>Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, masalah hakekat tujuan hidup dan tujuan pendidikan bagi manusia semakin santer dibahas. Keduanya merupakan titik tolak dalam memberikan pembatasan menyangkut fungsi manusia dalam kehidupan ini.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Adapun konsep tujuan pendidikan bagi manusia yang paling sederhana yang mungkin disebut tentang itu adalah “perubahan yang diingini diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapai baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan masyarakat dan pada alam sekitar tentang individu itu hidup, atau pada proses pendidikan sendiri dan proses pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai proporsi diantara profesi- profesi asasi dalam masyarakat.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Sedangkan nasakh dalam perspektif dinamika pendidikan pada sistem pendidikan di Indonesia bahwasannya kita tahu ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dengan demikian metode pendidikan dan pengajaran juga akan berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu metode nasakh sangat dominan keberadaannya dalam perkembangan sistem pendidikan kita.</p>
<p>Misalnya saja sistem pengajaran CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang dulu dicanangkan oleh pemerintah kita pada tahun 1975 merupakan pengganti sistem pendidikan pada masa kolonial belanda. Kemudian diganti lagi dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Dan muncullah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pada tahun 2006.</p>
<p>Perubahan dan pergantian sistem pendidikan dimaksudkan agar sistem pendidikan di Indonesia selaras dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bahan yang diajarkan dapat di serap secara maksimal oleh peserta didik.</p>
</div>
<div>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>al-Qur&#8217;an merupakan  kesatuan  utuh. Tak  ada  pertentangan  satu  dengan  lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur&#8217;an  <em>yufassir-u  ba&#8217;dhuhu  ba&#8217;dha</em>. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi  dalam  114 kelompok  surat,  mengandung  berbagai jenis pembicaraan dan persoalan.</p>
<p>Adanya nasikh-mansukh  tidak  dapat  dipisahkan  dari  sifat turunnya   al-Qur&#8217;an  itu  sendiri  dan  tujuan  yang  ingin dicapainya.</p>
<p>Sedangkan nasakh dalam perspektif dinamika pendidikan pada sistem pendidikan di Indonesia bahwasannya kita tahu ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman.</p>
<p>Perubahan dan pergantian sistem pendidikan dimaksudkan agar sistem pendidikan di Indonesia selaras dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bahan yang diajarkan dapat di serap secara maksimal oleh peserta didik.</p>
</div>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>As- Sarari, Abdul Ghafar Sulaiman, <em>Al- nasikh wa al mansukh fi Qur’anil Karim</em>, (Beirut, Darul kutub al ilmiyah, 1986).</p>
<p>Ar-Rumi, Fadh Bin Abdurrahman, <em>Ulumul Qur’an studi Kompleksitas Al- Qur’an</em>, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 1992).</p>
<p>Ash- Shidieqy, Hasbi, <em>Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur’an/ Tafsir</em>, (Jakarta, Bulan Bintang, 1954).</p>
<p>Aziz, Yahya., Dinamika Pendidikan Islam, (Surabaya: Alpha, 2007).</p>
<p>Baidowi, Ahmad, <em>Mengenal Thabathaba’i dan kontroversi nasikh mansukh</em>, (Bandung, Nuansa, 2005).</p>
<p>Djalal, Abdul, <em>Ulumul Qur’an</em>, (Surabaya, Dunia Ilmu, 2008).</p>
<p>Hamzah, Muchotob,  <em>Studi Al-Qur’an</em>, (Yogyakarta, Gama Media, 2003).</p>
<p>Kementerian urusan agama Islam, <em>Al- Qur’an dan Terjemahnya</em>, , 1971.</p>
<p>Masyhur, Kahar, <em>Pokok- pokok Ulumul qur’an</em>, (Jakarta, Rineka Cipta, 1992).</p>
<p>Shahrur, Muhammad, dkk, <em>Studi al Qur’an kontemporer</em>, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 2002).</p>
<p>Sholeh, Subkhi, <em>Mabahist fi Ulumil Qur’an</em>, (Beirut, Dar al Ilmi li al Malayin, 1977).</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Al- Qur’an,<em> </em>5 (Al- Maidah) : 49</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Subkhi Sholeh, <em>Mabahist fi Ulumil Qur’an</em>, (Beirut: Dar al Ilmi li al Malayin, 1977), hal. 367-368.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Abdul Djalal, <em>Ulumul Qur’an</em>, (Surabaya: Dunia Ilmu, 2008), 120-121.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Ibid.,</em> 122.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Ahmad Baidowi, <em>Mengenal Thabathaba’i dan kontroversi nasikh mansukh</em>, (Bandung: Nuansa, 2005), 72.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Muhammad Shahrur , dkk, <em>Studi al Qur’an kontemporer</em>,( Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 114.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Al- Qur’an, 2 (al- Baqarah): 106.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a>Ibid., 1   6 (an Nahl): 101.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Hasbi Ash- Shidieqy, <em>Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur’an/ Tafsir</em>, (Jakarta: Bulan Bintang, 1954), 108- 109.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Al- Qur’an, 41 (Fushshilat): 42.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Kahar Masyhur, <em>Pokok- pokok Ulumul qur’an</em>, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), 141.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Yahya Aziz, Dinamika Pendidikan Islam, (Surabaya: Alpha, 2007), 1.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Ibid, 7.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=259&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2011/02/04/nasakh-dalam-perspektif-dinamika-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KODIFIKASI HADITH</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2011/02/04/kodifikasi-hadith/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2011/02/04/kodifikasi-hadith/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 03:35:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Al-Hadith merupakan sumber hukum utama sesudah al-Qur’an. Keberadaan al-Hadith merupakan realitas nyata dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur’an. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Qur’an. &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2011/02/04/kodifikasi-hadith/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=257&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong>I. </strong><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Al-<em>Hadith</em> merupakan sumber hukum utama sesudah al-Qur’an. Keberadaan al-<em>Hadith</em> merupakan realitas nyata dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur’an. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Qur’an. Sedangkan al-<em>Hadith</em>, hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran al-Qur’an itu sendiri.</p>
<p>Kendati demikian, keberadaan al-<em>Hadith</em> dalam proses kodifikasinya sangat berbeda dengan al-Quran yang sejak awal mendapat perhatian secara khusus baik dari Rasulullah saw maupun para sahabat berkaitan dengan penulisannya. Bahkan al-Qur&#8217;an telah secara resmi dikodifikasikan sejak masa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq yang dilanjutkan dengan Utsman bin Affan yang merupakan waktu yang relatif dekat dengan masa Rasulullah.</p>
<p>Sementara itu, perhatian terhadap al-<em>Hadith</em> tidaklah demikian. Upaya kodifikasi al-<em>Hadith</em> secara resmi baru dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Abd. al-Aziz khalifah Bani Umayyah yang memerintah tahun 99-101 Hijriyah, waktu yang relatif jauh dari masa Rasulullah saw. Kenyataan ini telah memicu berbagai spekulasi berkaitan dengan otentisitas al-Hadith.</p>
<p>Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang definisi kodifikasi hadith, sejarah kodifikasi hadith dan faktor- faktor pendorong kodifikasi hadith.</p>
</div>
<p><span id="more-257"></span></p>
<div>
<p><strong>II. </strong><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>A. </strong><strong>DEFINISI KODIFIKASI HADITH</strong></p>
<p>Kodifikasi atau <em>tadwin hadith</em> secara resmi di sinonimkan dengan <em>tadwin al hadith Rasmiyan</em>, tentunya akan berbeda dengan penulisan hadith atau <em>kitabah al hadith</em>. Secara etimologi kata kodifikasi berasal kata <em>codification</em> yang berarti penyusunan menurut aturan/ sistem tertentu.<a href="#_ftn1">[1]</a> Atau dari kata <em>tadwin</em> dapat berarti perekaman (recording), penulisan <em>(writing down)</em>, pembukuan <em>(booking), </em>pendaftaran <em>(listing, registration)</em>. Lebih dari itu, kata <em>tadwin</em> juga berarti pendokumentasian, penghimpunan atau pengumpulan serta penyusunan. Maka kata <em>tadwin</em> tidak semata- mata berarti penulisan, namun ia mencakup penghimpunan, pembukuan dan pendokumentasian.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Adapun kata <em>rasmiyan </em>(secara resmi) mengandung arti bahwa suatu kegiatan dilakukan oleh lembaga administratif yang diaukui oleh masyarakat, baik langkah yang ditempuh tersebut diakui atau tidak oleh masyarakat itu sendiri.</p>
<p>Jadi yang dimaksud dengan kodifikasi <em>hadith</em> secara resmi adalah penulisan <em>hadith</em> nabi yang dilakukan oleh pemerintah yang disusun menurut aturan dan sistem tertentu yang diakui oleh masyarakat.</p>
<p>Adapun perbedaan antara kodifikasi <em>hadith</em> secara resmi dan penulisan hadith adalah :</p>
<p>a.       Kodifikasi hadith secara resmi dilakukan oleh suatu lembaga administratif yang diakui oleh masyarakat, sedang penulusan hadith dilakukan oleh perorangan.</p>
<p>b.      Kegiatan kodifikasi <em>hadith</em> tidak hanya menulis, tapi juga mengumpulkan, menghimpun dan mendokumentasikannya.</p>
<p>c.       <em>Tadwin hadith</em> dilakukan secara umum yang melibatkan segala perangkat yang dianggap kompeten terhadapnya, sedang penulisan <em>hadith</em> dilakukan oleh orang- orang tertentu.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. </strong><strong>SEJARAH KODIFIKASI HADITH</strong></p>
<p>Ide penghimpunan <em>hadith</em> nabi secara tertulis untuk pertama kali dikemukakan oleh Khalifah Umar bin al Khattab (w.23 H=633 M). Ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena Umar merasa khawatir umat Islam akan terganggu perhatiannya dalam mempelajari al Qur’an. Pembatalan niat Umar untuk menghimpun <em>hadith</em> nabi itu dikemukakan sesudah beliau melakukan sholat Istikharah selama satu bulan. Kebijaksanaan Umar dapat dimengerti karena pada zaman Umar daerah Islam telah semakin luas dan hal itu membawa akibat jumlah orang yang baru memeluk Islam semakin bertambah banyak.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Memasuki periode tabi’in, sebenarnya kekhawatiran membukukan/ kodifikasi <em>hadith</em> tidak perlu terjadi, justru pada periode ini telah bertabur hadith- <em>hadith</em> palsu yang mulai bermunculan setelah umat Islam terpecah menjadi golongan- golongan, yang semula berorientasi politik berubah menjadi faham keagamaan, seperti Khawarij, Syi’ah, murji’ah, dan lain- lain. Perpecahan ini terjadi sesaat setelah peristiwa tahkim yang merupakan rentetan peristiwa yang berasal dari terbunuhnya khalifah Umar bin Affan ra. Untuk mengukuhkan eksistensi masing- masing golongan mereka merasa perlu mencipta <em>hadith</em> palsu.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kemudian semua karya tentang <em>hadith</em> dikumpulkan pada paruh akhir abad ke- 2H/ 8M atau selama abad ke-3/9M. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa di seputar awal abad ke-2H, sejumlah kecil <em>muhadditsun</em> (ahli <em>hadith</em>) telah mulai menulis <em>hadith</em>, meskipun tidak dalam himpunan yang runtut. Belakangan koleksi kecil ini menjadi sumber bagi karya-karya yang lebih besar. Meskipun begitu kebanyakan <em>hadith</em> yang ada dalam himpunan- himpunan besar disampaikan melalui tradisi lisan. Sebelum dicatat dalam himpunan- himpunan tersebut belum pernah dicatat di tempat manapun.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan serentak dimulai.</p>
<p>(1)  Kelompok Syi’ah, mendasarkan pendapat Hasan al-Sadr (1272-1354 H), yang menyatakan bahwa penulisan hadis telah ada sejak masa Nabi dan kompilasi hadis telah ada sejak awal khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H), terbukti adanya Kitab Abu Rafi’, Kitab al-Sunan wa al-Ahkam wa al-Qadaya..</p>
<p>(2) Sejak abad I H, yakni  atas prakarsa seorang Gubernur Mesir ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan yang memerintahkan kepada Kathir bin Murrah, seorang ulama Himsy untuk mengumpulkan hadis, yang kemudian disanggah Syuhudi Ismail dengan alasan bahwa perintah ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bukan merupakan perintah resmi, legal dan kedinasan terhadap ulama yang berada di luar wilayah kekuasaannya.</p>
<p>(3) Sejak awal abad II  H,   yakni masa Khalifah ke-5 Dinasti ‘ Abbasiyyah, ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz yang memerintahkan kepada semua gubernur dan ulama di wilayah kekuasaannya untuk mengumpulkan hadith- hadith Nabi. Kepada Ibnu Shihab al-Zuhri, beliau berkirim surat yang isinya:” Perhatikanlah hadis Rasulullah SAW., lalu tulislah. Karena aku mengkhawatirkan lenyapnya ilmu itu dan hilangnya para ahli” dan kepada Abu Bakar Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm, beliau menyatakan: “Tuliskan kepadaku hadis dari Rasulullah yang ada padamu dan hadith yang ada pada  ‘Amrah (Amrah binti Abdurrahman, w. 98 H), karena aku mengkhawatirkan ilmu itu akan hilang dan lenyap.”</p>
<p>Pendapat ketiga ini yang dianut Jumhur Ulama Hadis, dengan pertimbangan jabatan khalifah gaungnya lebih besar daripada seorang gubernur, khalifah memerintah kepada para gubernur dan ulama dengan perintah resmi dan legal serta adanya tindak lanjut yang  nyata dari para ulama masa itu untuk mewujudkannya dan kemudian menggandakan serta menyebarkan ke berbagai tempat.</p>
<p>Dengan demikian, penulisan <em>hadith</em> yang sudah ada dan marak tetapi belum selesai ditulis pada masa Nabi, baru diupayakan kodifikasinya secara serentak, resmi dan massal pada awal abad II H, yakni masa ‘Umar bin ‘Abdul’Aziz, meskipun bisa jadi inisiatif tersebut berasal dari ayahnya, Gubernur Mesir yang pernah mengisyaratkan hal yang sama sebelumnya.</p>
<p>Adapun siapa kodifikator hadis pertama, muncul  nama Ibnu Shihab al-Zuhri (w. 123 H), karena beliaulah yang pertama kali mengkompilasikan <em>hadith</em> dalam satu kitab dan menggandakannya  untuk diberikan ke berbagai wilayah, sebagaimana pernyataannya: ”Umar bin ‘Abdul ‘Aziz memerintahkan kepada kami menghimpun sunnah, lalu kami menulisnya menjadi beberapa buku.” Kemudian beliau mengirimkan satu buku kepada setiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya. Demikian pandangan yang dirunut sebagian besar sejarawan dan ahli <em>Hadith</em>. Adapun ulama yang berpandangan Muhammad Abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang mengkodifikasikan <em>hadith</em> pertama, ditolak oleh banyak pihak, karena tidak digandakannya hasil kodifikasi Ibn Amr ibn Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah.</p>
<p>Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kodifikator <em>hadith</em> sebelum adanya instruksi kodifikasi dari Khalifah Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz telah dilakukan, yakni oleh Khalid bin Ma’dan (w. 103 H). Rasyid Ridha (1282-1354 H) berpendapat seperti itu, berdasar periwayatan, Khalid telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaran-lembarannya. Namun pendapat ini ditolak ‘Ajjaj al-Khatib, karena penulisan tersebut bersifat individual,  dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelumnya oleh para sahabat.  Terbukti adanya naskah kompilasi hadis dari abad I H, yang sampai kepada kita, yakni al-Sahifah al-Sahihah.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Diantara buku-buku yang muncul pada masa ini adalah:</p>
<p>1)                  Al-Muwaththa’ yang ditulis oleh Imam Malik</p>
<p>2)                  Al-Mushannaf oleh Abdul Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani</p>
<p>3)                  As-Sunnah ditulis oleh Abd bin Manshur</p>
<p>4)                  Al-Mushannaf dihimpun oleh Abu Bakar bin Syaybah, dan</p>
<p>5)                  Musnad Asy-Syafi’i.<a href="#_ftn8">[8]</a><br />
Teknik pembukuan <em>hadith- hadith</em> pada periode ini sebagaimana disebutkan pada nama-nama tersebut, yaitu <em>al-mushannaf</em>, al-muwaththa’, dan musnad. Arti istilah-istilah ini adalah:</p>
<p>a.             <em>Al-Mushannaf</em> dalam bahasa diartikan sesuatu yang tersusun. Dalam istilah yaitu teknik pembukuan hadits didasarkan pada klasifikasi hukum fiqh dan didalamnya mencantumkan hadith <em>marfu’, mauquf, dan maqthu’</em>.</p>
<p>b.            <em>Al-Muwatththa’</em> dalam bahasa diartikan sesuatu yang dimudahkan. Dalam istilah <em>Al-Muwaththa’</em> diartikan sama dengan <em>Mushannaf.</em></p>
<p>c.             <em>Musnad</em> dalam bahasa tempat sandaran sedang dalam istilah adalah pembukuan hadith yang didaarkan pada nama para sahabat yang meriwayatkan hadith tersebut</p>
<p>Tulisan-tulisan hadith pada masa awal sangat penting sebagai dokumentasi ilmiah dalam sejarah, sebagai bukti adanya penulisan hadith sejak zaman Rasululloh, sampai dengan pada masa pengkodifikasian resmi dari Umar bin abdul aziz, bahkan sampai pada masa sekarang.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Aktifitas Ulama dalam kodifikasi hadith sejak Abad II H.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> 1. Kodifikasi Hadith Abad II H.</strong></p>
<p>Pada abad kedua, para ulama dalam aktifitas kodifikasi <em>hadith</em> tidak melakukan penyaringan dan pemisahan, mereka tidak membukukan <em>hadith- hadith</em> saja, tetapi fatwa sahabat dan tabi’in juga dimasukkan ke dalam kitab- kitab mereka. Dengan kata lain, seleksi<em> hadith</em> pada abad kedua ini disamping memasukkan <em>hadith</em>- <em>hadith</em> nabi juga perkataan para sahabat dan para tabi’in juga dibukukan, sehingga dalam kitab- kitab itu terdapat <em>hadith- hadith</em> <em>marfu’</em>, hadith <em>mawquf</em> dan hadith <em>maqthu’</em>.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Kodifikasi Hadith Abad III H.</strong></p>
<p>Abad ketiga Hijriah ini merupakan masa penyaringan dan pemisahan antara sabda Rasulullah dengan fatwa sahabat dan <em>tabi’in.</em> Masa penyeleksian ini terjadi pada zaman Bani Abbasyiyah, yakni masa al- Ma’mun sampai al- Muktadir (sekitar tahun 201- 300 H). Periode penyeleksian ini terjadi karena pada masa <em>tadwin</em> belum bias dipisahkan antara hadith <em>marfu’, mawquf,</em> dan <em>maqthu’</em>, hadith yang dhaif dari yang sahih ataupun <em>hadith</em> yang <em>mawdhu’</em> masih tercampur dengan sahih. Pada saat ini pula mulai dibuat kaidah- kaidah dan syarat- syarat untuk menentukan apakah suatu hadith itu sahih atau dhaif. Para periwayat hadith pun tidak luput dari sasaran penelitian mereka untuk diteliti kejujuran, kekuatan hafalan, dan lain sebagainya.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Kodifikasi Hadith Abad IV- VII H.</strong></p>
<p><strong> </strong>Kalau abad pertama, kedua, dan ketiga, <em>hadith</em> berturut- turut mengalami masa periwayatan, penulisan, pembukuan, serta penyaringan dari fatwa- fatwa sahabat dan tabi’in, yang system pengumpulan <em>hadith</em> nya di dasarkan pada usaha pencarian sendiri untuk menemui sumber secara langsung kemudian menelitinya, maka pada abad keempat dan seterusnya digunakan metode yang berlainan. Demikian pula, ulama yang terlihat pada sebelum abad ke empat disebut ulama <em>mutaqaddimun </em>dan ulama yang terlibat dalam kodifikasi hadith pada abad keempat dan seterusnya disebut ulama <em>mutaakhirin.</em></p>
<p>Pembukuan <em>hadith</em> pada periode ini lebih mengarah pada usaha mengembangkan variasi pen- <em>tadwin</em>- an terhadap kitab- kitab hadith yang sudah ada. Maka, setelah beberapa tahun dari kemunculan <em>al kutub al- sittah, al- Muwaththa’</em> <em>Imam Malik ibn Anas</em>, dan <em>al Musnad Ahmad ibn Hanbal</em>, para ulama mengalihkan perhatian untuk menyusun kitab- kitab yang berbentuk <em>jawami’, takhrij, athraf, syarah,</em> dan <em>mukhtashar,</em> dan menyusun <em>hadith </em>untuk topik- topik tertentu.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Kodifikasi Hadith Abad VII- sekarang.</strong></p>
<p><strong> </strong>Kodifikasi <em>hadith</em> yang dilakukan pada abad ketujuh dilakukan dengan cara menertibkan isi kitab- kitab <em>hadith</em>, menyaringnya, dan menyusun kitab- kitab <em>takhrij,</em> membuat kitab- kitab<em> jami’</em> yang umum, kitab- kitab yang mengumpulkan <em>hadith- hadith</em> hukum, men <em>takhrij hadith- hadith</em> yang terdapat dalam beberapa kitab, men- <em>takhrij hadith- hadith </em>yang terkenal di masyarakat, menyusun kitab <em>athraf</em>, mengumpulkan <em>hadith- hadith</em> disertai dengan menerangkan derajatnya, mengumpulkan <em>hadith- hadith</em> dalam <em>shahih al- Bukhari</em> dan <em>Shahih Muslim</em>, men- <em>tashih</em> sejumlah <em>hadith</em> yang belum di <em>tashih</em> oleh ulama sebelumnya, mengumpulkan <em>hadith- hadith</em> tertentu sesuai topik, dan mengumpulkan <em>hadith </em>dalam jumlah tertentu.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<div>
<p><strong>C. </strong><strong>FAKTOR- FAKTOR PENDORONG KODIFIKASI HADITH</strong></p>
<p>Ada tiga hal pokok yang melatar belakangi mengapa khalifah Umar bin Abd Aziz melakukan kodifikasi hadith:</p>
<p>1.      Beliau khawatir hilangnya hadith- hadith, dengan meninggalnya para ulama di medan perang. Ini adalah faktor utama sebagaimana yang terlihat dalam naskah surat- surat yang dikirimkan kepada para ulama lainnya.</p>
<p>2.      Beliau khawatir akan tercampurnya antara hadith- hadith yang shahih dengan <em>hadith- hadith</em> palsu.</p>
<p>3.      Dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam, sementara kemampuan para tabi’in antara satu dengan yang lainnya tidak sama jelas sangat memerlukan adanya kodifikasi ini.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Dengan demikian faktor terpenting pendorong dilakukannya pengkodifikasian hadith adalah untuk menyelamatkan hadith- hadith nabi dari kepunahan dan pemalsuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>D. </strong><strong>PENENTU KEBIJAKAN KODIFIKASI DAN ULAMA YANG TERLIBAT DI DALAMNYA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Para ulama salaf dari kalangan sahabat dan <em>tabi’in</em> berbeda pendapat penulisan hadith dalam beberapa pendapat:</p>
<p>a.             Sebagian mereka membencinya, diantaranya adalah Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud serta Zaid bin Tsabit.</p>
<p>b.            Sebagian lain membolehkannya, diantaranya adalah Abdullah bin Ameer dan Anas, Umar bin Ibnu Abdul Aziz serta kebanyakan para sahabat.</p>
<p>c.             Kemudian mereka sepakat untuk membolehkannya, dan hilanglah perbedaan. Dan seandainya hadith tidak dibukukan dalam kitab- kitab niscaya akan sirnalah dalam masa akhir terutama dimasa kita sekarang.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan ulama yang terlibat di dalam kodifikasi hadith antara</p>
<p>lain :</p>
<p>1.            Khalifah Umar bin Abdul Aziz. (memerintah mulai tahun 99-101 H). Beliaulah yang memerintahkan adnya pembukuan hadith dengan alasan kuatir lenyapnya ajaran- ajaran nabi berhubung telah banyak ulama dan sahabat yang wafat. Karena itu beliau menginstruksikan kepada para gubernur dari semua daerah Islam supaya menghimpun dan menulis hadith- hadith nabi.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>2.            Abdul Malik bin Abdul Aziz (-150 H) di Makkah.</p>
<p>3.            Malik bin Anas (93-179 H) dan Muhammad bin Ishaq (-151 H) di Madinah.</p>
<p>4.            Muhammad ibnu Abdurrahman bin Dzi’ib (80-158 H) di Makkah.</p>
<p>5.            Rabi’ bin Sabih (-160 H), Sa’id bin ‘Arubah (-156 H) dan Hammad ibn Salamah (-167 H) di Basrah.</p>
<p>6.            Sufyan al-Thauri (97-161 H) di Kufah, Khalid ibn Jamil al-’Abd dan Ma’mar ibn Rashid  (95-153 H)  di Yaman.</p>
<p>7.            Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza’i (88-157 H) di Sham.</p>
<p>8.            ’Abdullah ibn al-Mubarak (118-181 H)  di Khurasan.</p>
<p>9.            Hashim ibnu Bushair (104-183 H) di Wasit.</p>
<p>10.        Jarir ibn Abdul Hamid (110-188 H)  di Rayy.</p>
<p>11.        Abdullah ibn Wahb (125-197 H)  di Mesir.<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Proses kodifikasi pada masa ulama Ibnu Abdul Aziz</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>Untuk keperluan<strong> </strong><em>tadwin </em>ini, sebagai khalifah Umarmemberikan instruksi kepada Abu Bakar ibn Muhammad ibn Hazm, seorang gubernur Madinah agar mengumpulkan dan menghimpun <em>hadith- hadith</em> yang ada pada Amrah binti Abd al- Rahman al- Anshari dan al- Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar. Instruksi untuk mengumpulkan dan mengkodifikasikan hadith juga disampaikan kepada Muhammad ibn Syihab al- Zuhri, seorang ulama besar di negeri Hijaz dan Syam. Al- Zuhri menggalang agar para ulama <em>hadith</em> mengumpulkan <em>hadith</em> di masing- masing daerah mereka, dan ia berhasil menghimpun <em>hadith </em>dalam satu kitab sebelum khalifah meninggal dunia yang kemudian dikirimkan oleh khalifah ke berbagai daerah untuk bahan penghimpunan <em>hadith</em> selanjutnya.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>III. ANALISIS</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari pemaparan tentang kodifikasi hadith diatas penulis sangat sependapat dengan usaha pengkodifikasian hadith yang di prakarsai oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dengan alasan- alasan kuat yang diajukan oleh Khalifah Umar penulis menganggap pelaksanaan kodifikasi sangat di perlukan untuk dilakukan. Selain untuk menjaga ajaran- ajaran Nabi Muhammad SAW, pengkodifikasian juga diperlukan untuk menghindari pemalsuan hadith Nabi.</p>
<p>Hal ini perlu dilakukan karena hadith merupakan salah satu pedoman umat Islam dalam menjalankan syari’ah. Peran hadith dinilai sangat penting karena kedudukannya sebagai penjelas ayat- ayat yang belum jelas. Banyak ayat- ayat al Qur’an yang memerintahkan melaksanakan ibadah-ibadah tertentu, akan tetapi tidak menjelaskan caranya. Misalnya sholat dan haji. Dan bagaimana cara pelaksanaan sholat dan haji dijelaskan dalam hadith nabi.</p>
<p>Dengan demikian pengkodifikasian hadith perlu mendapat apresiasi yang tinggi terhadap pelopor dan pelaksananya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><strong>IV. </strong><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Rencana untuk mengumpulkan <em>hadith- hadith</em> nabi pertama dimulai oleh Khalifah Umar bin Khattab. Namun dengan berbagai pertimbangan rencana tersebut batal dilaksanakan. Alasan utamanya adalah karena waktu itu masih berlangsung pengumpulan al Qur’an.</p>
<p>Sedangkan kodifikasi secara resmi dilakukan pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar memerintahkan kepada para gubernur untuk mengumpulkan  dan melakukan pembukuan terhadap hadith.</p>
<p>Ulama yang terlibat di dalam kodifikasi hadith antara lain:</p>
<p>Khalifah Umar bin Abdul Aziz. (memerintah mulai tahun 99-101 H).</p>
<p>Abdul Malik bin Abdul Aziz (-150 H) di Makkah. Malik bin Anas (93-179 H) dan Muhammad bin Ishaq (-151 H) di Madinah. Muhammad bin Abdurrahman bin Dzi’ib (80-158 H) di Makkah. Rabi’ bin Sabih (-160 H), Sa’id bin ‘Arubah (-156 H) dan Hammad ibn Salamah (-167 H) di Basrah. Sufyan al-Thauri (97-161 H) di Kufah, Khalid ibn Jamil al-’Abd dan Ma’mar ibn Rashid  (95-153 H)  di Yaman. Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza’i (88-157 H) di Sham.Abdullah ibn al-Mubarak (118-181 H)  di Khurasan. Hashim ibnu Bushair (104-183 H) di Wasit. Jarir ibn Abdul Hamid (110-188 H)  di Rayy. Abdullah ibn Wahb (125-197 H)  di Mesir.</p>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Arifin, Zainul, <em>Studi Hadis</em>, (Surabaya: Alpha, 2005).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>al- Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar, <em>fath al Bari, </em>juz I.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Echols, John, M. Hasan shadily, <em>Kamus Inggris Indonesia</em>, (Jakarta: Gramedia,1996).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://komppaq.blogspot.com/2010/07/sejarah-kodifikasi-hadis.html</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Idri, <em>Studi Hadis, </em>(Jakarta: Kencana, 2010).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ismail, Syuhudi, <em>Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya</em>, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ja’fariyan, Rasul, <em>Penulisan dan Penghimpunan Hadith kajian histori,</em> (Lentera, 1992).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Najwah,Nurun,<a href="http://uinsuka.info/ejurnal/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=25&amp;Itemid=28">http://uinsuka.info/ejurnal/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=25&amp;Itemid=28</a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ranuwijaya, Utang, <em>Ilmu Hadis, </em>(Jakarta: Radar Jaya, 1996)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Thahan, Mahmud, <em>Ulumul Hadith, Studi Komplesitas hadith nabi</em>, penerjemah, Zainul Muttaqin, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press &amp; LP2KI, 1997).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zuhri, M., <em>Hadits Nabi, Telaah Historis dan Metodologis</em>, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997).</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> John Echols, M. Hasan shadily, <em>Kamus Inggris Indonesia</em>, (Jakarta: Gramedia,1996), 122.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Zainul Arifin, Studi Hadis, (Surabaya: Alpha, 2005), 34.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid, 35.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Syuhudi Ismail, <em>Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya</em>, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), 49.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> M. Zuhri, <em>Hadits Nabi, Telaah Historis dan Metodologis</em>, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997),52.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Rasul Ja’fariyan, <em>Penulisan dan Penghimpunan Hadith kajian histori,</em> (Lentera, 1992), 23.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <strong>Nurun Najwah, http://uin-suka.info/ejurnal/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=25&amp;Itemid=28</strong></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Masjfuk Zuhdi, <em>Pengantar Ilmu Hadis</em>, (Surabaya: Bina Ilmu, 1993), 85</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> http://komppaq.blogspot.com/2010/07/sejarah-kodifikasi-hadis.html</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Idri, <em>Studi Hadis, </em>(Jakarta: Kencana, 2010), 95.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Ibid, 97.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Ibid, 99.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Ibid, 101.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Utang Ranuwijaya, <em>Ilmu Hadis, </em>(Jakarta: Radar Jaya, 1996), 68.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Mahmud Thahan, <em>Ulumul Hadith, Studi Komplesitas hadith nabi</em>, penerjemah, Zainul Muttaqin, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press &amp; LP2KI, 1997), 194.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Masjfuk Zuhdi, <em>Pengantar Ilmu Hadis</em>, 85.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <strong>Nurun Najwah, http://uin-suka.info/ejurnal/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=25&amp;Itemid=28</strong></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Ahmad bin Ali bin Hajar al- Asqalani, <em>fath al Bari, </em>juz I, 195.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=257&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2011/02/04/kodifikasi-hadith/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>9 Kebiasaan Menyegarkan Otak</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2011/01/11/9-kebiasaan-menyegarkan-otak/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2011/01/11/9-kebiasaan-menyegarkan-otak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Jan 2011 05:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas ekspresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[By Petti Lubis, Mutia Nugraheni &#8211; Senin, 10 Januari VIVAnews &#8211; Rasa jenuh dengan aktivitas sama setiap harinya dapat menimbulkan depresi. Kebosanan ini juga bisa membuat otak Anda merasa &#8216;kurang tertantang&#8217;. Jika Anda sering mengalami hal ini, jangan diam saja. &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2011/01/11/9-kebiasaan-menyegarkan-otak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=244&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By Petti Lubis, Mutia Nugraheni &#8211; Senin, 10 Januari</p>
<p>VIVAnews &#8211; Rasa jenuh dengan aktivitas sama setiap harinya dapat menimbulkan depresi. Kebosanan ini juga bisa membuat otak Anda merasa &#8216;kurang tertantang&#8217;. Jika Anda sering mengalami hal ini, jangan diam saja. Lakukan latihan berikut ini yang bisa membuat Anda seperti memiliki otak &#8216;baru&#8217;.</p>
<p>Dorothea Brande, penulis dan editor asal Amerika Serikat yang terkenal dengan bukunya &#8220;Wake Up and Live and Becoming a Writer&#8221;, menyarankan beberapa latihan mental untuk membuat pikiran Anda jadi lebih tajam. Latihan-latihan dimaksudkan untuk menarik Anda keluar dari kebiasaan dan rutinitas, memberikan Anda perspektif berbeda, serta menempatkan Anda dalam situasi yang membutuhkan akal serta kreativitas dalam memecahkan masalah.</p>
<p>Brande percaya, hanya dengan melakukan pengujian dan peregangan sendiri Anda mengembangkan kekuatan mental. Berikut sembilan latihan yang disarankan oleh Brande yang bisa Anda coba, seperti dikutip dari Divine Caroline.</p>
<p>1. Habiskan satu jam setiap harinya dengan tidak berkata apa-apa. Kecuali, untuk menjawab pertanyaan secara langsung, di tengah-tengah kelompok, tanpa menimbulkan kesan bahwa Anda merajuk atau sakit. Cobalah bersikap sebiasa mungkin.</p>
<p>2. Berpikirlan selama 30 menit setiap hari tentang satu subjek. Mulailah dengan berpikir dalam lima menit jika 30 menit terlalu lama.</p>
<p>3. Berbicaralah selama 15 menit per hari tanpa menggunakan kata &#8220;Aku&#8221;, &#8220;Saya&#8221;, dan  &#8220;Milik saya&#8221;.</p>
<p>4. Cobalah untuk diam di tengah keramaian</p>
<p>5. Lakukan kontak dengan orang baru dan biarkan ia menceritakan banyak hal soal dirinya tanpa ia menyadari.</p>
<p>6. Ceritakan secara eksklusif tentang diri sendiri dan kesenangan Anda tanpa mengeluh, membual atau membuat bosan teman Anda.</p>
<p>7. Buat rencana selama dua jam per hari dan lakukan rencana itu dengan konsekuen.</p>
<p>8. Buatlah 12 kegiatan yang dilakukan secara acak dan spontan. Misalnya, sepulang mendatangi tempat makan yang belum pernah dikunjungi sebelumnya lalu pulang bukan dengan naik taksi tetapi ojek. Atau, biasanya pada pagi hari Anda minum kopi, minumlah air putih atau jus. Usahakan kegiatan tersebut berbeda dari rutinitas Anda.</p>
<p>9. Dari waktu ke waktu, luangkan setiap harinya menjawab &#8220;Ya&#8221; untuk setiap permintaan orang lain, tapi tentunya yang masuk akal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://id.news.yahoo.com/viva/20110110/tls-9-kebiasaan-menyegarkan-otak-34dae5e.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=244&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2011/01/11/9-kebiasaan-menyegarkan-otak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tetap semangat ya nak&#8230;.</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2010/05/04/tetap-semangat-ya-nak/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2010/05/04/tetap-semangat-ya-nak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 02:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/2010/05/04/tetap-semangat-ya-nak/</guid>
		<description><![CDATA[tak terasa 3 tahun kau ada diantara kami, suka disaat kamu sehat dan tumbuh menjadi anak yang pintar&#8230; duka, ketika sakit datang menyinggahimu.. ceriamu membuat kami sangat bahagia, manjamu kadang memang menjengkelkan tapi itu bagi kami hal yang wajar untuk &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2010/05/04/tetap-semangat-ya-nak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=222&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tak terasa 3 tahun kau ada diantara kami,<br />
suka disaat kamu sehat dan tumbuh menjadi anak yang pintar&#8230;<br />
duka, ketika sakit datang menyinggahimu..</p>
<p>ceriamu membuat kami sangat bahagia,<br />
manjamu kadang memang menjengkelkan tapi itu bagi kami hal yang wajar<br />
untuk anak seusiamu dan anak tunggal&#8230;</p>
<p>tapi anakku,<br />
hidup tidak hanya ceria dan manja&#8230;</p>
<p>adakalanya saat kau berlari kau terjatuh,<br />
ada saatnya di saat kau berteman lalu bertengkar&#8230;<br />
jangan resah&#8230;karna itulah hidup&#8230;<br />
dan akan kau temukan warna kehidupan laen dalam setiap desah nafasmu&#8230;<br />
sampai kelak kau dewasa dan tau betapa berarti pengalaman masa kecilmu&#8230;</p>
<p>satu yang harus selalu kau pegang,<br />
tetap semangat apapun yang terjadi..</p>
<p>semoga kau menjadi anak yang sholehah dan selalu dicintai&#8230;.</p>
<p>happy b&#8217;day -3&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=222&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2010/05/04/tetap-semangat-ya-nak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat ulang tahun bapak&#8230;</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2009/12/01/selamat-ulang-tahun-bapak/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2009/12/01/selamat-ulang-tahun-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 02:32:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[hari ini usia bapak 64 tahun usia yang sebenarnya belum terlalu tua tetapi mungkin bapak sudah lelah Setelah sekian lama menafkahi istri dan ke-empat anakmu. Andai saja Alloh masih memberi panjang umur untuk bapak mungkin bapak akan bahagia melihat anak2 &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2009/12/01/selamat-ulang-tahun-bapak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=219&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hari ini usia bapak 64 tahun</p>
<p>usia yang sebenarnya belum terlalu tua</p>
<p>tetapi mungkin bapak sudah lelah</p>
<p>Setelah sekian lama menafkahi istri dan ke-empat anakmu.</p>
<p>Andai saja Alloh masih memberi panjang umur untuk bapak</p>
<p>mungkin bapak akan bahagia</p>
<p>melihat anak2 bapak yang juga bahagia</p>
<p>melihat cucu2 yang tumbuh dan menjadi anak2 yang pintar&#8230;.</p>
<p>Bapak, hanya satu yang kami sesali dari kepergianmu</p>
<p>belum sempat kami membahagiakanmu</p>
<p>belum sempat kami sedikit membalas jerih payahmu menghidupi kami</p>
<p>engkau telah pergi&#8230;</p>
<p>tapi kematian memang bukan untuk di sesali</p>
<p>dari sini anakmu selalu berdoa</p>
<p>semoga diampuni segala dosa bapak</p>
<p>diterima semua amal ibadah</p>
<p>dan di tempatkan di sisi terbaeik- Nya</p>
<p>amiin&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=219&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2009/12/01/selamat-ulang-tahun-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsumsi Kayumanis Berlebih Rusak IQ</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2009/10/09/konsumsi-kayumanis-berlebih-rusak-iq/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2009/10/09/konsumsi-kayumanis-berlebih-rusak-iq/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 01:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehamilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/2009/10/09/konsumsi-kayumanis-berlebih-rusak-iq/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak mengenal kayu manis. Bahan penambah aroma pada makanan yang dipercaya bisa membantu diet ini ternyata merupakan salah satu dari daftar makanan yang harus dijauhi selama masa kehamilan. Hal tersebut dikarenakan ternyata konsumsi kayumanis pada saat hamil, dapat &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2009/10/09/konsumsi-kayumanis-berlebih-rusak-iq/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=216&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tidak mengenal kayu manis. Bahan penambah aroma pada makanan yang dipercaya bisa membantu diet ini ternyata merupakan salah satu dari daftar makanan yang harus dijauhi selama masa kehamilan. Hal tersebut dikarenakan ternyata konsumsi kayumanis pada saat hamil, dapat menimbulkan kerusakan  IQ janin bayi dalam kandungan.<span id="more-216"></span></p>
<p>Hasil penelitian University of Helsinki di Finlandia selama delapan tahun terhadap wanita hamil yang gemar mengkonsumi manisan kayumanis mengungkapkan fakta tersebut. Ada kecenderungan menurunnya tingkat kecerdasan, konsentrasi yang buruk dan anak-anak lebih cenderung nakal di sekolah.</p>
<p>Sebuah zat yang disebut glycyrrhiza dalam kayumanis diyakini merusak plasenta, sehingga mampu menularkan hormon stres dari ibu ke bayi. Tingginya kadar hormon stres yang dikandung bayi dapat mempengaruhi perkembangan otak janin. Ini berkaitan dengan gangguan perilaku pada anak-anak.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan University of Edinburgh pada 321 anak menguji kemampuan mental, kosa kata, memori dan kesadaran spasial. Perilaku dinilai melalui sebuah kuesioner mendalam dan diselesaikan oleh masing-masing ibu.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan wanita yang gemar mengkonsumsi 100 gram akar kayumanis murni berada pada risiko yang lebih besar memiliki anak dengan tingkat kecerdasan di bawah rata-rata termasuk masalah perilaku. Hasil penelitian ini telah diumumkan dalam American Journal of Epidemiology.</p>
<p>&#8220;Jika memungkinkan, wanita hamil harus menghindari makan berlebihan kayumanis,&#8221; kata Profesor Katri Raikkonen, selaku ketua penelitian seperti dilansir dari The Sun. [mor]</p>
<p>sumber : <a href="http://inilah.com/berita/gaya-hidup/2009/10/08/164703/konsumsi-kayumanis-berlebih-rusak-iq/">inilah.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=216&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2009/10/09/konsumsi-kayumanis-berlebih-rusak-iq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Banyak belajar</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2009/09/10/banyak-belajar/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2009/09/10/banyak-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 07:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Belajar adalah sebuah proses dalam kehidupan. Belajarpun bukan hanya milik anak sekolah dan orang dewasa. Dan benarlah sebuah pepatah mengatakan bahwa belajar sejak dari buaian (gendongan) hingga liang kubur. Artinya bahwa semua manusia akan terus belajar sampai mati. Dan belajar &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2009/09/10/banyak-belajar/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=138&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belajar adalah sebuah proses dalam kehidupan. Belajarpun bukan hanya milik anak sekolah dan orang dewasa. Dan benarlah sebuah pepatah mengatakan bahwa belajar sejak dari buaian (gendongan) hingga liang kubur. Artinya bahwa semua manusia akan terus belajar sampai mati.<span id="more-138"></span></p>
<p>Dan belajar pulalah yang telah dilakukan putri kami nadhira. Sekarang usianya 2,4 bulan dan dia sedang banyak belajar. Belajar membaca, belajar menyanyi dan belajar bersosialisasi dengan lingkungan.</p>
<p>Walaupun masih susah mengajari dhira membaca iqro&#8217;, saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan ketika dhira menari iqro&#8217;nya. jilid satu dan masih di halaman satu, itupun belum lancar karena dhira masih susah berkonsentrasi.</p>
<p>Kalau menyanyi, itu hobby nya. Tak jarang kami tersenyum geli mendengarkannya bersenandung. Kurang jelas tapi hafal sampek akhir lagu. Wah, untuk urusan nyanyi nadhira ku hebat!</p>
<p>Dhira punya banyak teman, karena dia memang gak suka berdiam di rumah. Dua teman akrabnya cowok yang membuatnya sedikit tomboy (gak tau sedikit ato banyak ya?). Dhira suka boneka guling kecil dora miliknya. Tapi dia juga suka pistol2an, topeng dan kadang bermain perang2an bersama temannya&#8230; pengen sih punya anak perempuan yang cewek banget, tapi susah membentuk karakter anak, apalagi saya ibunya) tidak bisa mendampinginya 24 jam.</p>
<p>Satu perubahan dhira sekarang sama dulu sebelum dia mengenal banyak teman. Kenapa ya sekarang dia kok jadi pelit sama teman2nya? padahal dulu apapun mainan yang dipinjam temannya dia selalu kasih. Lha sekarang temannya baru pegang dikit aja dah teriak &#8220;jangan, itu punyaku!! apa karena teman2nya bersikap begitu juga sama dia?</p>
<p>Semoga anakku bisa terus beajar dan belajar pada kehidupan. dan mengambil yang terbaik dari pengalamannya, amin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=138&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2009/09/10/banyak-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alhamdulillah, akhirnya pemberkasan ramp &#8230;</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2009/09/10/alhamdulillah-akhirnya-pemberkasan-ramp/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2009/09/10/alhamdulillah-akhirnya-pemberkasan-ramp/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 07:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/2009/09/10/alhamdulillah-akhirnya-pemberkasan-ramp/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, akhirnya pemberkasan rampung&#8230;saatnya persiapan untuk mudik lebaran&#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=213&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, akhirnya pemberkasan rampung&#8230;saatnya persiapan untuk mudik lebaran&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=213&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2009/09/10/alhamdulillah-akhirnya-pemberkasan-ramp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merdeka!!</title>
		<link>http://arifah.wordpress.com/2009/08/20/merdeka-2/</link>
		<comments>http://arifah.wordpress.com/2009/08/20/merdeka-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 04:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI-64]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arifah.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Seharusnya kemaren sih HUT-RI ke 64. Tapi 2 hari kemaren kami sibuk banget. Bukan sibuk apa-apa, tapi sibuk cari keberuntungan dengan ikut jalan sehat. Siapa tahu dapat hadiah utama,hee&#8230; Hari minggu, jalan sehat sekolahnya dhira, kebetulan digabung sama jalan sehat &#8230; <a href="http://arifah.wordpress.com/2009/08/20/merdeka-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=208&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seharusnya kemaren sih HUT-RI ke 64. Tapi 2 hari kemaren kami sibuk banget. Bukan sibuk apa-apa, tapi sibuk cari keberuntungan dengan ikut jalan sehat. Siapa tahu dapat hadiah utama,hee&#8230;<span id="more-208"></span></p>
<p>Hari minggu, jalan sehat sekolahnya dhira, kebetulan digabung sama jalan sehat RW. Wah&#8230;gak nyangka dhira semangat banget ikut jalan sehat. Sampai-sampai waktu dijemput ayahnya ditengah jalan dhira gak mau, dia mau tetap jalan. Tapi saya juga gak tega, masak anak kecil suruh jalan sejauh itu. Akhirnya tak gendong juga&#8230;</p>
<p>Giliran pengambilan undian, dah dibelain nunggu sampek jam 11 gak dapat apa-apa,hiks&#8230; tapi gak pa-pa sih, yang penting dah bisa ngajak dhira menyemarakkan HUT-RI ke-64.</p>
<p>Hari senin dhira juga ikut jalan sehat RT tapi kali ini sama ayahnya, ibu gak ikut. Giliran pengambilan undian juga gak dapat apa-apa, kasihan deh lo!</p>
<p>Malamnya ada orkes sakit hati, eh.. orkes dangdut&#8230;wah, ternyata gini ya orkes. Masalahnya saya baru pertama kali lihat orkes langsung. Itu juga karena panggungnya di depan rumah&#8230;</p>
<p>Dari serangkaian acara memperingati HUT-RI ke-64, sebenarnya apa sih intinya? bersenang-senang? akh, sepertinya terlalu sederhana..</p>
<p>Buat saya memperingati HUT-RI adalah mengenang kembali perjuangan para pendahulu kita dalam meraih kemerdekaan. Nah, sekarang giliran kita untuk berjuang mengisi kemerdekaan itu.</p>
<p>Tapi apakah kita sudah benar-benar merdeka? saya rasa kita belum merdeka dalam banyak hal, terutama masalah ekonomi persamaan hak. Masih banyak rakyat kita yang belum bisa makan sehari 3 kali. Banyak anak-anak yang belum bisa sekolah karena tak ada biaya. Tapi banyak juga rakyat kita yang belum bisa menikmati listrik, air bersih, sekolah, dan informasi karena memang di daerah mereka belum ada prasarana untuk itu.</p>
<p>Jadi kapan Indonesia ini bisa benar-benar merdeka dan memerdekakan rakyatnya?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arifah.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arifah.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arifah.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arifah.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arifah.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arifah.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arifah.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arifah.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arifah.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arifah.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arifah.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arifah.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arifah.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arifah.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arifah.wordpress.com&amp;blog=276156&amp;post=208&amp;subd=arifah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arifah.wordpress.com/2009/08/20/merdeka-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/931d08b79ea2917600aa01b84bee7d02?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arifah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
