Bisnis Atas nama Tuhan..

Dunia ini benar-benar telah berubah menjadi ladang bisnis. Apapun bisa jadi uang.. kalo sampah diadaur ulang, trus jd uang sih bagus…Tapi kalo agama dijadikan ladang bisnis bagaimana?

Sekarang semakin marak ustadz-ustadz “dadakan” yang lagi naik daun (kuat ya daunnya? Hee..). Mereka dibayar mahal lho untuk menyampaikan dakwah nya…Padahal mungkin yang disampaikan hanya satu dua ayat atau hadist, yang dibalut dengan bahasa retorika yang menarik…

Kalau kita menengok ke sejarah Islam masa lalu. Dimana Wali Songo berdakwah tanpa bayar.. bahkan mereka hidup sangat sederhana…mereka berdakwah tak kenal lelah dan tanpa bayar…keadaan sekarang justru sebaliknya..da’i-da’i memasang tarif mahal untuk menyampaikan dakwahnya…

Sepertinya sekarang paradigma telah berubah. Dakwah yang dulunya dijadikan ladang amal, sekarang berubah menjadi ladang bisnis…Allohu A’lam bi al showab..

3 thoughts on “Bisnis Atas nama Tuhan..

  1. Dari namanya saja Ustadz artinya guru, Da’i artinya penda’wa, keduanya secara umum diketahui sebagai profesi, sehingga menurutnya pantas menerima imbalan. Kalau para ustadz atau Da’i tersebut kembali menelaah sejarah penyebaran Al Islam sebagai Agama pada zaman Rasulullah Muhammad, yang tidak mengenal Guru dan Murid, dan tidak mengenal ‘Da’i’, yang ada pada saat itu Al Islam disebarkan dengan cara ‘Dialog’ antara Rasulullah dan Sahabat-sahabatnya, bukan antara Rasulullah dengan Murid-muridnya, sehingga Rasulullah tidak mengharapkan imbalan. …. ‘Ketika sahabat bertanya maka Rasulullah menjawab’.

    Sungguh sangat disayangkan, kalau orang yang mengerti tentang isi Al Qur’an baru mau membagi ilmunya (pengetahuannya tentang Al Islam) apabila dibayar, atau bahkan dengan tarif yang tinggi. Pada hal dalam Al Qur’an terdapat sedikitnya dua ayat yang tidak mengizinkan hal itu : (1) …. Jangan pertukarkan ayat-ayatku dengan materi, dan (2) …… Jangan hargai ayat-ayatku dengan harga yang ‘murah’ (ayat-ayat hanya dihargai dengan beberapa juta Rp per jam sangatlah murah di sisi Allah, bahkan Rp. 100 Milyar per jam pun masih sangat murah di sisi Allah). Bukankah tugas seorang Kiyai adalah : Pawaris nabi dan pembawa amanah rasul. Rasulullah Muhammad, tidak mendapatkan sesuatu sebagai imbalan dalam menyebarkan Al Islam, tetapi untuk memperoleh rezki, maka beliau berdagang sampai ribuan kilometer. Sungguh muliah hati Rasulullah Muhammad, menyebarkan Al Islam tanpa pamrih.

    Sungguh muliah hati seorang Kiyai apabila mau berda’wa di kolom jembatan, di tempat pelacuran, ditempat-tempat maksiat lainnya dengan cara-cara yang bijak, sebab mereka yang berada di situ sangat membutuhkan pencerahan dan pemahaman tentang Al Islam.

  2. Dari namanya saja Ustadz artinya guru, Da’i artinya penda’wa, keduanya secara umum diketahui sebagai profesi, sehingga menurutnya pantas menerima imbalan. Kalau para ustadz atau Da’i tersebut kembali menelaah sejarah penyebaran Al Islam sebagai Agama pada zaman Rasulullah Muhammad, yang tidak mengenal Guru dan Murid, dan tidak mengenal ‘Da’i’, yang ada pada saat itu Al Islam disebarkan dengan cara ‘Dialog’ antara Rasulullah dan Sahabat-sahabatnya, bukan antara Rasulullah dengan Murid-muridnya, sehingga Rasulullah tidak mengharapkan imbalan. …. ‘Ketika sahabat bertanya maka Rasulullah menjawab’.

    Sungguh sangat disayangkan, kalau orang yang mengerti tentang isi Al Qur’an baru mau membagi ilmunya (pengetahuannya tentang Al Islam) apabila dibayar, atau bahkan dengan tarif yang tinggi. Pada hal dalam Al Qur’an terdapat sedikitnya dua ayat yang tidak mengizinkan hal itu : (1) …. Jangan pertukarkan ayat-ayatku dengan materi, dan (2) …… Jangan hargai ayat-ayatku dengan harga yang ‘murah’ (ayat-ayat hanya dihargai dengan beberapa juta Rp per jam sangatlah murah di sisi Allah, bahkan Rp. 100 Milyar per jam pun masih sangat murah di sisi Allah). ‘Apabila ada yang memberi jangan pula ditolak, sebab menolak pemberian, berarti menolak rejeki yang telah tebarkan Tuhan di dunia ini pada saat seseorang lahir di dunia ini.

    Bukankah tugas seorang Kiyai adalah : Pawaris nabi dan pembawa amanah rasul. Rasulullah Muhammad, tidak mendapatkan sesuatu sebagai imbalan dalam menyebarkan Al Islam, tetapi untuk memperoleh rezki, maka beliau berdagang sampai ribuan kilometer. Sungguh muliah hati Rasulullah Muhammad, menyebarkan Al Islam tanpa pamrih.

    Sungguh muliah hati seorang Kiyai apabila mau berda’wa di kolom jembatan, di tempat pelacuran, ditempat-tempat maksiat lainnya dengan cara-cara yang bijak, sebab mereka yang berada di situ sangat membutuhkan pencerahan dan pemahaman tentang Al Islam.

  3. Ilmu pengatahuan tentang Al Quran yang ingin disamapaikan oleh ustad harus melalui bayaran, berarti firman Allah dijual seperti tukang obat melakukan proganda dijalanan agar dangangannya laku inilah yang dinamakan “Keselamatan itu dijual”

    Kemurnian suatu keselamatan sangat diragukan, diibaratkan anda membeli dulu tieket pesawat baru anda dapat diterbangkan ketempat tujuan. dimana kemurnian firman Allah itu ? buat apa kita beragama, kalau mendapat agama itu dengan wang ?

    Seperti pepatah mengatakan; ada wang abang dicintai, tiada wang abang ditentang,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s