Ujian juga kenikmatan

Ketika ujian datang menghampiri kita, baik itu kebahagiaan ataupun ksedihan. Akan ada dua cara penyikapan kita. Kalau ujian-Nya berupa kebahagiaan, biasanya kita nggak pernah ambil pusing. Tapi ketika ujian datang berupa kesedihan dari tumpukan masalah, kadangkala kita akan sangat terpuruk, sedih berlarut-larut, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, menyesali hidup, bahkan sampai menyalahkan Alloh yang kadang kita jadikan tersangka dari penyebab kesedihan ini…naudzubillah…

Padahal kalau kita lebih bijaksana dalam menyikapi masalah yang datang, seharusnya kita bersyukur, karna kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari semua itu. Dan berarti kita juga akan semakin dewasa.

Syukur, sabar dan ikhlas adalah cara terbaik untuk menghadapi ujian Alloh. Bersyukur karena kita masih banyak nikmat-Nya yang diberikan kepada kita. Penglihatan kita sempurna, begitu juga panca indera dan organ tubuh yang lain. Sabar karena ujian yang ada pasti akan berakhir, tinggal tunggu saatnya saja. Kalaupun kita tidak sabar, itu tidak akan membuat ujian kita segera berakhir kan?Inna ma`a al usri yusraa… Ikhlas bisa menjadi sahabat terbaik kita menghadapi ujian-ujian yang datang. Dengan ikhlas hidup kita akan tenang.. Inna Allah ma`a as shobiriin..Semoga kita termasuk hamba-hamba yang disayang-Nya…Amiin…

One thought on “Ujian juga kenikmatan

  1. Ujian kayak anak sekolah, he… he… Tentu bukan, …!

    Kebahagiaan, keberhasilan, kesuksesan, kekayaan dan sejenisnya (yang ‘baik’) vs kesedihan, malapetaka, bencana, kemiskinan dan sejenisnya (yang ‘buruk’), merupakan hasil dari ‘perbuatan’ manusia itu sendiri. Banyak orang berpendapat bahwa ‘suatu bencana’ mungkin merupakan ujian, dan bahkan hukuman dari Allah. Bukankah, ada ayat Al Qur’an yang menjelaskan bawa …. tidaklah hamba-hamba-Ku menerima hukuman, … kecuali dari hasil kedua belah tangannya. Jadi Tuhan tidak akan menghukum manusia dengan berbagai siksaan, kemiskinan, bencana, dll., apabila manusia tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan bencana, malapetaka, kemiskinan, dll., sehingga manusialah yang menghukum dirinya sendiri atas perbuatannya. Seberat apapun suatu bencana, kegagalan, kemiskinan, dll. tetap dalam batas di mana manusia mampu mengatasinya atau mampu menerimanya atau mampu memikulnya, atas dasar keimanan. Bukankah setiap melakukan Shalat lima waktu, … melakukan “penyerahan diri kepada-Nya”, … Innashalati wa nusuki wa mahyayah wa mamati lillahi rabbil alamin. Kalau ikhlas dalam menyerahkan segala sesuatunya, maka apapun yang dialami (karena atas izin-Nya), maka harus diterima pula dengan ikhlas, seraya merenungi perbuatan yang telah dilakukan, sehingga hasilnya seperti itu. Kalau tertimpah kemiskinan, maka mari merenung ‘apakah telah cukup upaya yang telah dilakukan? agar keluar dari kemiskinan itu. Apabila tertimpah musibah, maka segera bersyukur dan mengatakan inilah kenikmatan dari Allah, karena kalau tidak tertimpah bencana, maka saya tidak bisa menghindari perbuatan yang menyebabkan bencana itu datang, dan saya terus-menerus akan terpuruk dan tertimpah bencana itu. Agar tidak tertimpah bencana itu, maka saya harus berbuat sesuatu agar bencana itu tidak datang lagi.

    Kalau tertimpah kekeyaan, maka mari merenung, apakah sebagian dari kekeyaan ini telah diberikan kepada yang berhak (zakat, sedekah, dll.) sebagai tanda syukur atas nikmat-Nya. Bersyukur bukan dengan membaca Al Hamdulillah, tetapi langsung membagikan sebahagian kenikmatan itu kepada orang lain, terutama yang membutuhkan. … Ketika mendapat rezeki dari bumu dan langit, maka keluarkan sebahagian …. (Qur’an), sebagai tanda syukur. … Harta yang digunkan/dikeluarkan pada yang ‘baik’, ibarat sebutir padi, tumbuh jadi tujuh bulir, setiap bulir berisi seratus biji … (Q). Jadi mengeluarkan sebahagian kenikmatan itu, akan datang 700 kali lipat kenikmatan lagi. Sungguh luar biasa, … mengeluarkan Rp. 1.000 dengan ikhlas (tanpa ria) akan datang Rp 700.000, kalau mengeluarkan Rp. 1 juta, akan datang Rp. 700 Juta, dst. Dengan demikian, mensyukuri nikmat kepunyaan Allah, maka nikmat tersebut akan semakin besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s