Melahirkan, didampingi orang tersayang

Hari itu, hari kamis 3 Mei 2007 jam 07.00 saya mengeluarkan lendir merah seperti orang menstruasi. Saya langsung sadar bahwa kelahiran putri kami sudah dekat. Karena salah satu tanda mau melahirkan diantaranya adalah pecah nya air ketuban, keluar lendir bercampur darah, perut mules-mules dll. Dan saya mengalami salah satu tanda itu.

Saya langsung panggil ibu yang kebetulan sudah berangkat ngajar di TK dekat rumah. Trus ibu langsung telepon ke sodara yang punya mobil untuk mengantarkan saya ke Rumah Sakit (saya memang memilih melahirkan di Rumah sakit karena saat itu adalah pengalaman pertama melahirkan jadi lebih hati-hati, selain itu peralatan di Rumah Sakit lebih lengkap dan jika sewaktu-waktu butuh dokter langsung siap. Katanya juga kemungkinan saya beresiko melahirkan karena tinggi badan 1 cm dibawah normal)

Sebelum berangkat saya sempatkan kirim sms ke suami yang mengabarkan kalau saya sudah ada tanda-tanda mau melahirkan (waktu itu suami saya di Surabaya dan saya di Ponorogo. Saya memilih melahirkan di Ponorogo karena pengen didampingi ibu, maklum pengalaman pertama,hee..).

Sampai Rumah Sakit diperiksa bidan, ternyata sudah bukaan dua. Tapi bidan nya bilang katanya masih lama lahirnya. Jadi boleh pulang lagi, atau boleh juga nunggu di Rumah Sakit…

Saya dan ibu memutuskan untuk ke rumah bu dhe yang kebetulan dekat dengan Rumah Sakit.Dan sekitar jam 2 siang, suami saya datang dan yang membuat saya terkejut dia naik sepeda motor dari Surabaya.

Sekitar jam 3 sore rasa mules-mules sudah mulai terasa.Semakin lama kontraksinya semakin sering. Dan saya berangkat lagi ke Rumah sakit sekitar jam setengah empat sore. Sampai Rumah Sakit diperiksa bidan dan sudah bukaan 4. Jam 5 sore bukaan 8…

Masih ingat, bagaimana rasanya menahan sakit menjelang putri saya nadhira lahir. Wah…ternyata lebih sakit dari sakit gigi (sebelumnya saya kira sakit gigi adalah paling sakit).

Sebagai calon ibu, saya sadar bahwa saya harus belajar membawa diri termasuk menahan sakit menjelang persalinan. Apalagi kalau kita teriak-teriak justru akan menghabiskan tenaga kita, selain memang tidak sopan dan malu sama orang-orang di sekitar. Saya hanya bisa merintih halus sambil berdzikir. Tapi tak henti tangan saya meremas-remas lengan suami dan ibu.Karena mereka yang mendampingi saya di Rumah Sakit menjelang persalinan…”bu..sakit…, mas..sakit…itu kata-kata yang selalu saya ucapkan disela-sela dzikir saya. Ibu hanay menasehati agar saya terus berdzikir menyebut asma Alloh dan menyerahkan semua kepada-Nya…

Apalagi ketika sudah memasuki bukaan 10,waktu itu sekitar jam 5.30 sore. detik-detik kelahiran semakin dekat dan rasanya pun semakin sakit….

Setelah para bidan yang akan menolong persalinanku selesai melaksanakan sholat maghrib,sekitar jam 6 sore mereka pun mendekat dan menolong saya menjalani proses melahirkan. Saat itu ada 2 bidan dan satu perawat yang menolongku.

Mereka mengajariku bagaimana teknik mengejan. Kedua kaki diangkat, tangan diletakkan dibawah paha (jadi saya sendiri yang mengangkat dan menahan kaki saya). Dan saat mengejan dilarang mengeluarkan suara, karena akan menghabiskan tenaga.

Suami dan ibu masih setia disampingku… mereka yang memberiku kekuatan untuk melewati perjuangan berat dan menegangkan. Tapi di tengah proses persalinan ibuku keluar ruang persalinan karena gak kuat mndampingiku, dan suamiku masih tetap disampingku…

“Ayo dek..terus dek…” kata suamiku sambil membimbingku mengtur pernafasan.”mas, gak kuat..”kataku…bidan pun memberikan semangat “lho kalo ibunya gak kuat, siapa yang akan melahirkan bayinya? Ayo bu..ibu pasti bisa..” Akhirnya aku terus berusaha..”ayo dek, kurang dikit, kepala nya dah kelihatan…ku kerahkan seluruh tenagaku untuk mengejan, dan…terengarlah suara tangis putriku…

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Alloh…anakku lahir dengan sehat dan sempurna…

Begitu berat proses persalinan..dan orang-orang terdekat dan tersayang kitalah yang menjadi penyemangat untuk berjuang…

Saran saya, jika anda akan menjalani proses persalianan, mintalah suami atau ibu anda untuk mendampingi. Tapi masih jarang Rumah Sakit yang mengijinkan kita didampingi oleh keluarga saat menjalani proses kelahiran. Padahal keberadaan mereka akan sangat membantu kita dalam proses persalinan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s