Sisi Lain dari Bencana Asap Riau

Sebagai manusia sosial tentu saja kita sangat prihatin dengan kabut asap tebal yang melanda sebagian besar pulau Sumatera dan Kalimantan. Bahkan saya sempat menangis ketika membaca berita ataupun melihat liputan di televisi. Sungguh memilukan. Bukan hanya manusia yang menjadi korban, banyak satwa mati terpanggang disana. Wujud simpati saya saat ini hanya bisa saya lakukan dengan menukis status- status atau me repost postingan di facebook tentang betapa marahnya saya dengan keadaan tersebut. Setiap pagi saya juga menanyakan kabar teman- teman yang berada disana untuk menanyakan bagaimana keadaan mereka. Apakah mereka baik- baik saja, tentu saja dengan tak henti meminta mereka untuk selalu bersabar dan menjaga diri.

sedih, marah, bingung harus berbuat apa? itu yang saya tangkap dari ungkapan teman- teman yang ada di Riau. Anak- anak mereka hanya sekolah di hari senin dan kamis itupun untuk serah terima tugas. Dua hari dalam seminggu anak- anak di Riau pergi ke sekolah dan hanya berlangsung 2 jam. Itu salah satu dampak dari kabut asap.

Rumah sakit dipenuhi dengan penderita ISPA. Masih beruntung teman- teman yang saya kenal tidak terkena ISPA. “Itu sebuah kesyukuran dibalik bencana”, ungkap mereka. bagaimana tidak banyak yang terkena ISPA jika selama 24 jam yang mereka hirup adalah karbon dioksida hasil pembakaran hutan?. Gangguan kesehatan adalah dampak berikutnya.

Mirisnya lagi saya membaca berita bahwa pemerintah akan memberikan dana kompensasi untuk korban asap. Saya sangat geram dengan kabar tersebut. Bagaimana pemerintah berpikir sesederhana itu?? apa dengan memberikan kompensasi kabut asapnya hilang, penderita ISPA juga sembuh, dan anak- anak bisa kembali ke Sekolah?. Sungguh solusi yang bodoh menurut saya. Mereka tidak butuh uang, tapi butuh sehat terbebas dari asap.

Dan pagi ini saya membaca ada ungkapan sinis dan pesismis dari teman tentang harapan segera berlalunya kabut asap di Riau. “Bagaimana kami bisa berharap kabut asap akan segera berakhir fah.., kalau gubernurnya saja ada di penjara. Plt gubernur adalah keluarga pengusaha. dan kamu tau sendiri bagaimana pengusaha kalau sudah berurusan dengan pejabat?” dan saya hanya bisa membalas “Hmmm…” sambil berpikir adakah solusi lain untuk membantu. Saya punya ide “bagaimana kalau seluruh masyarakat Riau demo?, paling tidak masyarakat disana mengungkapkan betapa mereka menginginkan agar kabut asap segera teratasi.” Dan yang membuat saya kaget, teman saya menjawab “masyarakat disini sudah apatis fah.., bagaimana mau diajak demo, lha sekolah diliburkan saja sudah pada protes..padahal libur sekolah itu ada suratnya dari dinas pendidikan”. Saya hanya menjawab lagi lagi dengan “Hmmm…”. Dan kali ini ide saya sudah buntu.

Hanya bisa mendoakan semoga kabut asap segera berlalu, oknum yang harus bertanggungjawab juga segera ditangkap dan diadili sampai868kabut pekanbaru3 jera. Tidak hanya di hukum denda dan tahun depan kembali berulah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s