Lagi- lagi

Rasanya sedih melihat dan membaca umat Islam negeri ini terpecah belah karena perbedaan. Bukannya perbedaan di artikan sebagai rahmat tetapi justru malah dijadikan ajang kuat- kuatan sehingga menjadi penyebab saling mengolok- olok dan mem bully.

Dan lagi- lagi perbedaan itu datang dari Ormas besar kita NU dan Muhammadiyah dalam menyikapi penetapan Hari Santri. NU merasa bahwa santri punya andil besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, maka dari itu merasa perlu di canangkannya hari santri sebagaimana hari pahlawan dan hari- hari bersejarah lainnya yang diperingati. Itu salah satu alasan yang saya tangkap dari usulan penetapan hari santri. Sementara itu Muhammadiyah tidak sepakat adanya hari santri karena ditakutkan akan ada pengkotakan masyarakat yang dikhawatirkan dapat mengancam persatuan bangsa.

Sebenarnya kalau kita telaah lebih jauh tidak ada yang salah dengan argumen NU dan Muhammadiyah dalam menyikapi hari santri. Mereka sama- sama memiliki alasan kuat dan masuk akal. Yang menjadi masalah adalah adanya kemungkinan ada unsur politik yang menunggangi mereka. Kalau saja mereka bisa lebih bijaksana dan berpikir jauh kedepan maka mereka akan lebih memikirkan dampak yang akan ditimbulkan dari perseteruan antar kedua organisasi terbesar tersebut di masa yang akan datang,

Jika sedikit berbeda sudah dianggap tabu dan dijadikan ajang kuat-kuatanantar organisasi, lalu bagaimana dengan hadis Rosululloh yang menjelaskan bahwa “perbedaan diantara umatku adalah rahmat” .Yang menjadi pertanyaan adalah dimana letak rahmat dalam perbedaan- perbedaan yang terjadi antara NU daNU-Muhammadiyah1n Muhammadiyah dalam berbagai hal?. Mirisnya lagi status- status bernada mem bully tersebut banyak dibuat oleh orang- orang yang dibilang pintar secara intelektual. Dan ternyata kepintaran intelektual tidak berbanding lurus dengan kecerdasan emosional, kecerdasan berempati dan menghargai.

Yang saya tangkap justru terjadi adu kekuatan, adu argumetasi, merasa menang, merasa benar sendiri dan menyalahkan yang lain. Dan apa yang akan terjadi dengan generasi muda kita dimasa mendatang, kalau pendidikan berpendapat dan pelajaran bertoleransi dan menghargai perbedaan sudah hilang di masyarakat?

Harapan saya, marilah kita selalu belajar menghargai perbedaan, belajar berempati dan belajar menghormati keputusan orang lain. Jangan dianggap perbedaan itu sebagai bentuk permusuhan yang akhirnya menjadi alasan kita saling mem bully di sosial media. Berikan contoh yang baik pada anak- anak kita agar mereka kelak menjadi manusia- manusia yang bijaksana dan santun dalam bersikap dan bertutur kata.

“Mulutmu adalah harimaumu”

2 thoughts on “Lagi- lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s